Charlie Watts: Dewa Drum yang Kalem di Balik Kegilaan Rolling Stones


Di dunia musik rock yang penuh gemerlap, pesta liar, dan ego besar, Charlie Watts justru jadi sosok yang paling beda. Namanya pernah duduk manis di posisi ke-12 daftar 100 drummer terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone (2016). Tapi meski punya pengaruh besar, dia tetap rendah hati, kalem, dan jauh dari sorotan.

Charlie Watts bukan tipe musisi yang doyan pamer. Ia jarang tampil di wawancara dan lebih suka tampil elegan, baik dalam gaya berpakaian maupun cara bermain drum. Bahkan saat Rolling Stones jadi buah bibir karena gaya hidup rock n roll mereka, Watts tetap cuek dan jalan di jalurnya sendiri. Dia nggak tertarik jadi pusat perhatian seperti Mick Jagger atau Keith Richards. Buat dia, bermain musik ya soal ritme, bukan panggung ego.

Awal Hidup dan Kecintaan pada Jazz



Charlie Watts lahir pada 2 Juni 1941 di London. Sejak kecil, ia sudah jatuh cinta pada musik jazz. Orang tuanya bahkan membelikannya drum set saat ia masih 13 tahun. Dari sanalah cintanya pada musik makin kuat. Meski sempat kerja sebagai desainer grafis, hatinya tetap tertambat pada dunia musik.

Dia mulai tampil di klub-klub jazz sebelum akhirnya direkrut Alexis Korner untuk main di band Blues Incorporated. Di sana, dia bertemu Brian Jones, yang kemudian mengenalkannya ke Rolling Stones. Dari situlah karier rock-nya dimulai.


The Rolling Stones dan Peran Penting Watts



Charlie resmi gabung Rolling Stones tahun 1963. Sejak awal, gaya mainnya sudah unik tenang, tapi bertenaga. Saat para cewek nekat naik ke atas panggung demi memeluk Jagger, Watts tetap fokus menjaga irama, bahkan saat tangannya ditarik-tarik fans!

Selain jago main drum, kemampuan desain grafisnya juga berguna buat band. Ia bantu desain panggung dan sempat punya ide gokil saat tur di Amerika: main di atas truk yang jalan muterin kota! Ide itu akhirnya ditiru banyak band besar lain.

Meski The Stones terkenal liar, Watts justru sebaliknya. Dia setia pada istrinya, Shirley, yang dinikahinya sejak 1964. Tapi hidupnya nggak selalu mulus. Di usia 40-an, dia sempat kecanduan alkohol dan heroin, hampir hancurkan pernikahannya. Titik baliknya datang saat dia pingsan di studio dan jatuh dari tangga itu jadi alarm keras buat berubah.


Drama di Balik Panggung: Charlie vs. Mick



Meski dikenal kalem, bukan berarti Charlie Watts nggak bisa marah. Salah satu momen paling legendaris dalam sejarah Rolling Stones adalah saat dia "naik pitam" gara-gara Mick Jagger.

Kejadiannya terjadi di sebuah hotel di Amsterdam, tahun 1984. Saat itu, Mick Jagger yang sedang mabuk berat, menelepon kamar Charlie tengah malam dan berteriak, “Where’s my drummer?!” — seolah-olah Charlie cuma sekadar anak band suruhan.

Charlie, yang terkenal kalem dan elegan, langsung bangkit dari ranjang. Ia mengenakan jas rapi lengkap dengan dasi, lalu jalan ke kamar Mick, mengetuk pintunya, dan saat Mick membukakan pintu… BAM! Charlie langsung menghajarnya dengan satu pukulan keras.

"Aku bukan drummermu. Kamu penyanyiku," katanya tegas.

Kisah ini jadi legenda internal Rolling Stones—bukan karena kekerasannya, tapi karena menunjukkan bahwa Charlie memang kalem, tapi dia juga punya harga diri. Ia bukan sekadar “pengiring” di balik layar, tapi bagian tak terpisahkan dari jiwa Rolling Stones.


Kembali ke Jazz dan Hidup Damai


Setelah masa-masa kelam itu, Watts kembali ke akar jazz-nya. Dia hidup tenang di pedesaan Inggris, beternak kuda, mengoleksi barang antik dan mobil klasik (walaupun nggak bisa nyetir!), dan tetap manggung bareng proyek jazz-nya seperti Charlie Watts Quintet.

Meski nggak suka sorotan, ia tetap tampil memukau. Ia bahkan sempat manggung bareng 25 musisi dalam satu panggung, dan selalu tampil elegan. Mick dan Keith boleh sering ribut, tapi mereka sepakat: Charlie adalah "lem" yang menyatukan semuanya.


Akhir Perjalanan Sang Legenda

Tahun 2004, Charlie didiagnosis kanker tenggorokan, tapi berhasil pulih. Namun pada 24 Agustus 2021, ia meninggal dunia di usia 80 tahun, hanya beberapa minggu setelah memutuskan mundur dari tur Rolling Stones karena masalah kesehatan.

Charlie Watts mungkin bukan yang paling vokal, paling liar, atau paling sering muncul di tabloid. Tapi dia adalah roh dari Rolling Stones. Dewa drum yang nggak butuh spotlight, karena ketukan dan ketenangannya sudah bicara banyak.

 

Comments

Post a Comment